Emosi hadir karena ingin memberi informasi dan sebagai cara jiwa berkomunikasi pada diri kita. Ketika emosi itu datang, Jangan buru-buru dialihkan, tetapi terima kehadirannya dan dengarkan apa yang ingin disampaikan.
Ambil waktu untuk merenung, lalu tanyakan :
Apa yg dirasakan?
Apa penyebabnya?
Mengapa merasakannya?
Sejak kapan merasakannya?
Apa yg saya butuhkan?
Apa yg hati saya inginkan?
Dari siapa perasaan ini muncul? Apa yg bisa saya lakukan untuk membuat keadaan menjadi lebih baik?
Bisa ditanyakan saat sedang meditasi ataupun journaling. Jawab dengan jujur, tanpa dihakimi apapun.
Tugas kita hanya :
Rasakan, Akui, Sadari, Pahami.
Karena dengan begitu, kita akan mendapatkan informasi yang membawa solusi dan kita butuhkan.
Gimana dengan jalan-jalan? Makan-makan? Belanja? Atau melakukan sesuatu yg membuat kita happy saat lagi merasakan emosi sedih? Apa itu salah?
Ngga salah,
Selama kita mendahulukan kebutuhan/hak batin kita. Apa haknya? Di akui, di dengarkan, di rasakan, di sadari, di pahami.
Karena selama haknya belum terpenuhi, maka ia akan terus memanggil kita sampai kebutuhannya terselesaikan.
Jadi wajar, kenapa setelah jalan-jalan/ belanja, dll nya selesai perasaan sedihnya tetep ada, belum hilang dan masih terasa.
Semakin kita sering mengalihkan emosi, maka semakin menumpuk pula emosi tersebut. Semakin menumpuk emosi, maka semakin berat batin kita.
Tanda batin yg mempunyai emosi bertumpuk adalah saat fisik kita sering sakit. Maka sadari, adakah sakit di badan yg menetap? Berobat kemanapun belum sembuh, minum obat apapun ngga berpengaruh.
Beban batin tadi, lama-lama akan pindah kalo udah full kapasitasnya. Pindahnya kemana? Ke badan.
Jika penyakit sekalipun hadir karena cinta atau sebagai bentuk sayangnya jiwa pada raga, yg ingin memberi kita informasi bahwa ada haknya yg belum terpenuhi,
Bukankah penyembuhan, keselarasan/keseimbangan jiwa, pikiran dan badan diawali dari mendengarkan emosi?
Sudahkah kamu menjadi pendengar yang baik untuk dirimu sendiri?
Sudahkah kamu menjadi sahabat yang baik untuk dirimu sendiri?
Ingat “Dari pikiran jadi Badan"
Apakah mengakui emosi yg kita rasakan harus selalu disampaikan kepada orang yg menjadi penyebabnya?
Ngga harus selalu,
Karena kadang yg menurut kita masalah, belum tentu jadi masalah buat orang tsb.
Bisa jadi, diri kita masih punya luka lama yg belum tuntas dan kebawa tanpa sadar di situasi yg sebenernya berbeda dan gaada sangkut pautnya sama sekali dengan situasi kita saat ini. Cuma, karena ada pemicunya jadilah kita ketrigger sama emosi di masa lalu. “Thats why, healing is important thing.”
Jadi solusinya liat keadaan dulu, mau disampaikan atau ngga ke orang yg jadi penyebab emosi kita muncul. Tapi yang paling utama buatku adalah di tulis aja dulu, di journal, ungkapin semua rasa itu sebebas-bebasnya tanpa dihakimi sama sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar